Now Playing Tracks

Sleepless Night

“Sekarang pukul 3 pagi”

Begitulah sekiranya kata jam tanganku saat aku melihat dirinya. Jam tangan berwarna perak mengkilat dg 3 buah jarum yg saling berkejaran didalam kaca berwarna bening yg banyak goresannya. 

“Pukul 3 pagi” aku mengulangi perkataan jam tanganku. 

“Aku harus kemana?” Kehilangan arah merupakan hal biasa bagiku. Sejak semua yg kumiliki pergi. Sejak semua yg kucintai meninggalkanku. Pertama Ibuku, ia pergi saat aku memperdengarkan tangisan pertamaku. Hal ini membuatku membenci kehidupan. Bagaimana aku bisa belajar hidup jika yg melahirkanku pergi? Lalu ayahku, menggantung dirinya sendiri di gudang rumah adalah pilihan terakhirnya. Perusahaannya bangkrut dan terlilit hutang yg tak mungkin kami bayar kembali. Mati adalah pilihannya untuk lari. Kemudian saudaraku satu-satunya, kakakku, suara decitan ban yg beradu dg aspal disusul dg suara tabrakan adalah hal terakhir yg bisa didengarnya. Pandangannya sudah terlebih dahulu terbutakan cahaya lampu mobil seberang. Yang terakhir adalah Mbak Putri, teman sekaligus penjagaku yg paling setia. Pisau daging tertancap dilehernya setelah seorang perampok tertangkap basah olehnya.

Aku kini sendiri. Luntang-lantung ditengah kota Jakarta dengan segala kemegahannya. Rumahku sudah lama kutinggalkan. Mungkin sekarang menjadi rumah para burung walet yg amat bising. Warna oren dari lampu jalanan menghujaniku yg sedang menunggu sesuatu untuk dilakukan. Mobil dan motor masih banyak yg berlalu lalang. Menyemprotkan gas beracun dari knalpotnya yg panas. Jembatan fly over tua masih berdiri tegap menghadapi zaman. Gambar-gambar menghiasi tiangnya.

Sesekali aku menoleh ke kanan dan kiri. Melihat sekilas apa yg ada disana. Tak banyak yg kudapati. Hanya cahaya oren lain menghujani apapun yg ada dibawahnya. 

Aku pun bangkit dan mulai berjalan. Entah kemana, yg penting aku bermobilisasi dari tempat tadi. Ada toko 24 jam dtengah perjalananku. Aku haus. Aku butuh minum. Tapi aku tak punya uang. Aku melongok ke dalam dan melihat seorang pemuda berdiri di meja kasir. Ia memandang televisi yg memperlihatkan acara sepak bola. Aku masuk, denting lonceng yg dipasang dipintu membuat pemuda itu menoleh. Ia melihatku yg berdiri ditengah pintu. Ia tersenyum dan kembali menatap apa yg ia tatap sebelumnya. Ia tak terlalu menaruh perhatian padaku. Jaket jeans hitam, celana jeans ketat dan sepasang sepatu dg aku didalamnya tak membuat pemuda itu berpaling dari acaranya.

Aku berjalan lambat. Menyusuri gang diantara rak-rak toko. Melihat apa yg biasa terlihat didalam sebuah toko. Rak minuman. Aku mencapainya. Aku mengambil sebotol minuman yg menarik perhatianku. Aku menggenggamnya dan berpikir, “dg apa aku akan membayar ini?”.Aku menengok ke arah penjaga toko tadi. Ia terlihat sangat serius dg acaranya. Kuselipkan botol itu diantara jaketku. Aku berjalan dg bingung menuju pintu. Aku menarik pintu dan suara lonceng muncul lagi.

“Minuman itu harganya 6000.” Aku kaget saat pemuda itu bicara.

“Maaf, tapi aku tak punya uang” kataku memelas.

“berarti kau tak boleh membawanya atau aku akan meneriakimu dari sini. Mungkin beberapa orang akan mengejarmu, menangkapmu dan memperkosamu”

“itu kan jika para pria yg mengejarku. Bagaimana jika wanita yg mengejarku? apa mereka akan memperkosaku?”

“tentu tidak. Tapi apa ada wanita yg masih terbangun selain kau dalam radius 10 km?”

“kurasa ada. Pasti ada”

“Tidak mungkin. Sudahlah, kembalikan minuman itu atau aku akan berteriak”

Aku berjalan kembali ke rak tempat aku mengambil minuman tadi. Aku mengeluarkan botol tadi dari dalam jaketku dan menaruhnya kembali. Aku terdiam. Termangu dan berpikir sejenak.

~~~~~~~~~~~

Aku berjalan keluar toko itu. Pemuda kasir itu tak menolehkan matanya dari acara sepak bolanya. Aku berjalan perlahan. Amat perlahan di depan pemuda itu. Tak sedetikpun mata pemuda itu melirik ke arahku. Aku heran, manusia macam apa dia ini. Aku mendekatinya. Aku berdiri tepat dihadapannya. Dia bergeser sedikit kesamping hanya untuk tetap melihat ke arah televisi. Ia tak gentar.

Aku mulai menggodanya. Kuhalangi lagi pandangannya dari televisi. Ia kembali bergeser. Aku tutupi kembali, ia bergeser kembali. Berkali-kali ku lakukan. Tak ada tanda-tanda kesal dari dirinya. Malah ia tetap memasang muka datar.

Tingkat godaanku, ku naikkan. Aku menyentuh pipinya. Tanganku berkelana disekitar wajahnya. Masih tak ada ekspresi darinya. Tanganku berjalan semakin liar. Kugerakkan tanganku disekitar lehernya. Diam masih menjadi bagian dari dirinya. Aku naik ke atas meja kasir. Duduk diatasnya sambil tetap memainkan tanganku disekitar lehernya. Tanganku semakin turun dan menyentuh dadanya. Tatapan dingin masih mengarah ke televisi.

Aku semakin penasaran dan semakin liar. Kedekatkan wajahku ke wajahnya. Hembusan nafasku bercampur dg miliknya. Aku bisa menghirup nafasnya. Dingin. Seperti asap yg keluar dari es batu. Aku heran, apakah ini efek dari pendingin ruangan atau memang nafasnya seperti es?

Aku semakin liar. Ada dorongan lain dari dalam diriku yg membuat aku penasaran. Bibirku menyentuh bibirnya. Kering. Kupagutkan bibirku. Ku gigit pelan dan membasahi bibir keringnya. Aku menutup mata. Mencoba menikmatinya sendirian. Tak ada gerakan dari dirinya. Aku tetap mencoba menikmati sendirian. Sampai aku merasakan tangan dingin menyentuh pingganggku. Tangan dingin lain kurasakan dipunggungku. Remasan lembutnya membuat aku semakin bisa menikmatinya. Lalu aku merasakan pergerakan dari bibirnya. Bibir kami saling berpagutan.

Rasa dingin semakin menusuk diriku. Tubuhku semakin rapat dengan tubuhnya. Rasa dingin ini lebih menusuk daripada dinginnya angin malam. Tapi aku tak peduli, aku tetap mencoba menikmati semuanya. Sampai pada suatu titik dimana aku merasa tangan dingin itu menarik kaosku ke atas. Angin dingin menyapu perut dan pinggangku yg sudah terbuka. Aku melepaskan ciumanku tapi tetap menutup mata. Aku tak merasakan lagi kaosku. Hanya tangan dingin membuka seluruh pakaianku. Aku ditarik menuju bagian dalam meja kasir. Aku berdiri mematung tanpa membuka mata.

Aku merasakan tangan dingin itu menjalar keseluruh tubuhku. Aku merasa membeku. Tak bisa bergerak. Tak bisa membuka mataku. Aku tak lagi merasa ada kain yg melekat ditubuhku. Angin malam bebas menyapu tubuhku. Membelai lembut seluruh tubuhku.

Tangan yg lebih dingin dari angin malam itu membelai sekujur tubuhku. Bermain lebih lama disekitar dadaku. Beberapa pagutan kembali kurasakan. Tak hanya dibibirku. Aku merasa sesuatu menekan milikku. Aku membuka sedikit kakiku. Aku merasakannya masuk lebih dalam dan mengambil seluruhnya. Aku seperti melayang merasakannya. Tak seperti yg kubayangkan sebelumnya. Aku tak tau nama perasaan ini. Yang jelas aku menikmatinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku terjerembab. Entah dimana. Aku merasakan aspal diwajahku. Aku panik. Aku mencoba membuka mataku tapi tak bisa. Tak ada sesuatu pun yg bisa kudengar. Bahkan nafasku sendiripun tidak. Aku semakin panik. Berbagai pikiran melintas. Aku tak tau harus berbuat apa. Angin malam bertiup lebih keras.

Aku berusaha keras membuka mata. Tapi semakin aku berusaha, semakin tidak bisa aku melakukannya. Nafasku tersengal. Bernafaspun aku kesulitan. Seperti tak ada udara untuk dihirup disekelilingku. 

Aku menyerah. Aku tak tau harus berbuat apa. Tapi justru disaat aku menyerah, semua semakin mudah. Nafasku kembali teratur. Udara kembali memenuhi rongga dadaku. Perlahan aku mencoba membuka mata dan berhasil. Pandanganku masih sedikit kabur. Tapi aku langsung mengetahui aku dimana. Aku didepan toko tadi. Aku berdiri dan membelakangi toko tadi.

Aku penasaran ingin melihat toko dan pemuda tadi. Aku membalikkan tubuhku perlahan dan nafasku kembali tercekat. Udara disekitarku kembali hilang. Kesadaranku menurun dan berbagai pikiran buruk melintas. 

Aku tak melihat toko tadi. Yang kulihat hanya sebuah bangunan yg sebagian besar sudah ambruk. Pohon besar berdiri ditengahnya. Temboknya menghitam bekas terbakar. Puing-puing berserakan.

Lalu apa yg aku lihat tadi? Apa yg aku rasakan begitu nyata. Suara, tatapan, dingin dan pemuda tadi begitu nyata menyentuh semua indraku. Pikiranku lenyap. Nafasku masih tercekat. Tak ada lagi yg bisa kupikirkan. Mataku menyapu seluruh sudut reruntuhan toko itu. Kulihat segala detail puing yg berserakan.

Dan diujung tempat meja kasir harusnya berada, kulihat sosok pemuda tadi. Utuh dan bersih sedang menatap tajam kearahku.

~

Dry House, Wet Clothes

Jadi semacam inikah harusnya?

Pertanyaan banyak berlewat. Tapi jawab tak ada yg menghampiri. Bikin daftar pertanyaan menumpuk semakin tinggi dan panjang. Menutupi segala kemungkinan dibalik sederet kesempatan. Belum lagi matahari terbakar lebih lama. Sang malam datang terlambat. Bulan tergantung begitu tingginya. Bintang ditelan cahaya neon. Jam dinding mati. Tak bisa lagi mengabarkan waktu. Tak lagi bisa menceritakan apa yg terjadi saat tak ada.

The Dream In My Dream

Pernah bermimpi? pasti pernah.

Pernah berangan-angan? pasti pernah.

Pernah membayangkan sesuatu hal yg sangat ingin untuk terjadi? pasti pernah.

~

Menghayal menjadi bagian dari bagian hidup manusia. Normal untuk berhayal. Apalagi untuk sesuatu yg hampir atau sangat ga mungkin terjadi. Cukup dg menghayal sudah bisa bikin senyum muncul di wajah kita. Right?

Disaat semua angan dan mimpir sepertinya berkebalikan dg fakta yg sedang dan akan sepertinya terjadi dalam hidup ini, ternyata waktu memberikan momen lain. Ia memindahkan angan dan mimpi ke dalam kehidupan nyata dan membuat jiwa seseorang seperti disiram air dari kolam surga.

Waktu yg sepertinya mendikte dan menenggelamkan kita, telah memberikan sebuah pengalaman. Memindahkan pengalaman dari hanya angan dan mimpi semata menjadi sebuah kisah nyata yg bisa kita kenang. Bukan kita hayalkan. 

Dimana aroma dan kehangatannya benar-benar terasa disetiap inci dari kulit pembungkus tulang. Aroma yg memenuhi indra penciuman dg bau yg memanjakan. Sentuhan hangat yg membuat kulit tak lagi dingin.

Dan momen yg membuat orang sekitar terpana.

To Tumblr, Love Pixel Union